Dalam cerita konvensional, struktur dramatik yang dipergunakan adalah struktur dramatik Aristoteles. Bagian-bagian dari struktur tersebut adalah: (Sumardjo dan Saini, 1986: 142-143)
Tuhan dengan indahnya mempertemukan kita di antara ribuan kesempatan yang tak henti datang. bukan hari kemarin, bukan esok maupun denting di hari lain. Tuhan dengan indah membuat kita merasakan perasaan yang sama, walaupun masalalumu dan masalaluku masih lekat mengikat. mereka tak lelah membuat kita terhenti sejenak untuk melepaskan emosi yang kadang terasa lucu. mereka tak lelah membuat kita mengelus dada tiap kepingan dri mereka terjatuh dengan lembut. mereka tidak lelah dengan segala eksistensi mereka yang kadang membuat kita jengah... tapi ternyata Tuhan menghadirkanmu untuk mengenalkanku pada esensi dr kedewasaan. esensi dr cinta itu sendiri. kau adalah milikku, aku adalah milikmu begitu lah matamu menatap tajam dan mulai menelanjangi tiap lekuk paradigma yang selama ini aku yakini. dan kini aku menyerah, aku sudah melebur di titik nadir, aku sudah menyerah dengan segala pemberontakanku. aku menyerah untuk menyelami tiap inci dari esensi cinta yang kau ucapkan. aku menyera...
Buat gue yang usianya hampir menginjak 20 thn kata-kata itu emang udah pantes dijadikan pembicaraan. bukannya kebelet banget buat nikah, tapi sekedar rencana untuk ke depannya. kadang sedikit terlintaskan apa yang bakal kita lakuin setelah lulus, so pasti sih nyari kerja itu hal yang pualiiiiiiing utama. nah kalau udah dapet kerja????? udah dapet gaji????? cewe nunggu apa lagi sih?????? bukan hal yang lumrah dalam suatu hubungan yang setengah matang, kata-kata itu menjadi topik pembicaraan bagi kita dan pasangan kita. Nah sob!!!! buat cewe yang sebentar lagi memasuki tahap pemikiran seorang wanita, sudah haruuuuuuuus bisa menilai apakah pasangan kita ini seorang lelaki ataukah seorang cowok???
Komentar
Posting Komentar